Teori Pemrosesan Informasi
Berbantuan Media
Menurut teori pemrosesan informasi,
pengetahuan yang diproses dan dimaknai dalam memori kerja disimpan dalam memori
jangka panjang dalam bentuk skema-skema teratur secara hirarkis. Tahap
pemahaman dalam pemrosesan informasi dalam memori kerja berfokus pada
bagaimana pengetahuan barudimodifikasi. Pemahaman berkenaan dan dipengaruhi
oleh interpretasi terhadap stimulus. Faktor stimulus adalah karakteristik
dari elemen-elemen desain pesan seperti ukuran, ilustrasi, teks, animasi,
narasi, warna, musik, serta video. Studi tentang bagaimana informasi
diidentifikasi, diproses, dimaknai, dan ditransfer dalam dan dari
memori kerja untuk disimpan dalam memori jangka panjang mengisyaratkan
bahwa pendesainan pesan merupakan salah satu topik utama dalam
pendesainan multimedia pembelajaran. Dalam konteks ini, desain pesan multimedia pembelajaran
berkenaan dengan penyeleksian, pengorganisasian, pengintegrasian elemen-elemen
pesan untuk menyampaikan sesuatu informasi.
Penyampaian informasi bermultimedia yang
berhasil akan bergantung pada pengertian akan makna yang dilekatkan pada
stimulus elemen-elemen pesan tersebut. Dalam mengartikan penyampaian
informasi dengan multimedia perlu dibedakan apa yang disebut dengan media
pengantar, desain pesan, serta kemampuan sensorik. Media pengantar mengacu
pada sistem yang dipakai untuk menyajikan informasi, misalnya media
berbasiskan media cetakan atau media berbasiskan komputer. Desain pesan
mengacu pada bentuk yang digunakan untuk menyajikan informasi, misalnya
pemakaian animasi atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu pada jalur
pemrosesan informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang
diperoleh, seperti proses penerimaan informasi visual atau auditorial.
Sebagai contoh, suatu paparan tentang bagaimana sistem sesuatu alat
bekerja dapat dipresentasikan melalui teks tertulis dalam buku atau
melalui teks di layar komputer (dua media yang berbeda), dalam bentuk
rangkaian kata-kata atau kombinasi kata-kata dan gambar (dua desain pesan
yang berbeda), atau dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan (dua
sensorik yang berbeda). Sebenarnya istilah desan pesan mengacu pada proses
manipulasi, atau rencana manipulasi dari sebuah pola tanda yang memungkinkan untuk mengkondisi
pemerolehan informasi.
Kata desain menunjukkan
adanya suatu proses dan suatu hasil. Sebagai suatu proses, desain pesan
sengaja dilakukan mulai dari analisis masalah pembelajaran hingga
pemecahan masalah yang disumuskan dalam bentuk produk. Produk yang
dihasilkan dapat dalam bentuk prototipe, naskah atau stori board, dan
sebagainya. Desain pesan pembelajaran meliputi perencanaan untuk merekayasa
bentuk fisik dari pesan atau informasi. Hal tersebut mencakup prinsip-prinsip
perhatian, persepsi, dan daya serap yang mengatur penjabaran bentuk fisik
dari pesan atau informasi, agar terjadi komunikasi antara pengirim dan
penerima. Fleming dan Levie (dalam Budiningsih,2002) membatasi pesan pada
pola-pola isyarat atau simbol yang memodifikasi perilaku kognitif,
afektif, dan psikomotor. Desain pesan berurusan dengan tingkat paling
mikro melalui unit-unit kecil seperti bahan visual, urutan, halaman dan
layar secara terpisah.
Adapun karakteristik
lain dari desain pesan adalah bahwa desain pesan harus bersifat spesifik
baik terhadap medianya maupun tugas belajarnya. Hal ini mengandung arti
bahwa prinsip-prinsip desain pesan akan berbeda tergantung apakah medianya
bersifat statis, dinamis atau kombinasi dari keduanya, misalnya suatu
potret, film, atau grafik komputer. Juga apakah tugas belajarnya berupa pembentukan
konsep atau sikap, pengembangan ketrampilan atau strategi belajar, ataukah
menghafalkan informasi verbal. Berdasarkan hasil dari suatu penelitian ditemukan
bukti bahwa desain pesan yang berbeda pada multimedia pembelajaranmempengaruhi
kualitas performansi dari pebelajar (Pranata, 2004).
Adapun beberapa teori
yang melandasi perancangan desain pesan multimedia instruksional ialah
teori pengkodean ganda, teori muatan kognitif, dan teori pemrosesan ganda.
Menurut teori pengkodean ganda manusia memiliki sistem memori kerja yang
terpisah untuk informasi verbal dan informasi visual, memori kerja terdiri
atas memori kerja visual dan memori kerja auditori. Teori muatan kognitif
menyatakan bahwa setiap memori kerja memiliki kapasitas yang terbatas.
Sedangkan teori pemrosesan ganda menyatakan bahwa penyampaian informasi
lewat multimedia instruksional baru bermakna jika informasi yang diterima
diseleksi pada setiap penyimpanan, diorganisasikan ke dalam representasi
yang berhubungan, serta dikoneksikan dalam tiap penyimpanan (dapat di
periksa pada Gambar 1). Temuan-temuan penelitian (Pranata, 2004) telah
menguji kebenaran teori pengkodean ganda (dual-coding theory): terdapat dua
buah saluran pemrosesan informasi yang independent yaitu pemrosesan informasi
visual (atau memori kerja visual) dan pemrosesan informasi verbal (atau memori
kerja verbal); kedua memori kerja tersebut memiliki kapasitas yang terbatas
untuk memroses informasi yang masuk. Hal terpenting yang dinyatakan oleh
teori muatan kognitif adalah sebuah gagasan bahwa kemampuan terbatas memori
kerja, visual maupun auditori, seharusnya menjadi pokok pikiran ketika seseorang
hendak mendesain sesuatu pesan multimedia.
Model belajar pemrosesan informasi ini
sering pula disebut model kognitif information
processing, karena dalam proses belajar ini tersedia
tiga taraf struktural sistem informasi, yaitu:
1)
Sensory atau intake
register: informasi masuk ke sistem melalui
sensory register, tetapi hanya disimpan untuk
periode waktu terbatas. Agar tetap dalam
sistem, informasi masuk ke working memory
yang digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2)
Working memory: pengerjaan atau
operasi informasi berlangsung di working memory, dan di
sini berlangsung berpikir yang sadar.
Kelemahan working memory sangat terbatas kapasitas
isinya dan memperhatikan sejumlah kecil informasi secara
serempak.
3)
Long-term memory, yang
secara potensial tidak terbatas kapasitas isinya
sehingga mampu menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki peserta
didik. Kelemahannya adalah betapa sulit
mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya.
Proses berpikir merupakan proses kompleks dan tidak dapat
dilihat secara langsung bagaimana otak bekerja dan informasi di olah. Informasi
yang diterima melalui alat indera akan dipersepsikan oleh bagian-bagian yang
berfungsi secara khusus. Model pembelajaran pemrosesan informasi adalah model
pembelajaran yang menitikberatkan pada aktivitas yang terkait dengan kegiatan
proses atau pengolahan informasi untuk meningkatkan kapabilitas siswa melalui
proses pembelajaran.
Pemrosesan informasi untuk memindahkan informasi dari
memori jangka pendek ke dalam memori jangka panjang disebut pengkodean atau
encoding. Sementara itu, menyimpan informasi dalam memorijangka panjang tidak
ada gunanya kecuali dapat ditemukan cara untuk mengaktifkan dan memanggil
kembali informasi tersebut. Pemrosesan Informasi merujuk pada cara
mengumpulkan/menerima stimuli dari lingkungan, mengorganisasi data, memecahkan
masalah, menemukan konsep, dan menggunakan simbol verbal dan visual.
Permasalahan:
1. Apakah
pada teori pemrosesan ini terdapat kelebihan dan kekurangan? Jika ada tong
jelaskan …
2. Di dalam teori pemrosesan informasi terdapat
tiga taraf struktural sistem informasi, tolong jelaskan secara ringkas…
3. Mengapa
dalam mengartikan penyampaian informasi dengan multimedia kita perlu membedakan
apa yang disebut dengan media pengantar, desain pesan, serta kemampuan
sensorik…